Tokoh Sastrawan Indonesia angkatan 45

Tokoh Sastrawan Indonesia angkatan 45

Tokoh Sastrawan Indonesia angkatan 45 - Tokoh Sastrawan Indonesia angkatan 45
Tokoh tentang sastrawan angkatan 45 , dan cara pembuatan Tokoh Sastrawan Indonesia angkatan 45 Sebagai berikut : Semoga bisa membantu kalian dalam menyelesaikan tugas ....

BAB I
PENGANTAR


Kesusastraan Indonesia modern lahir pada sekitar tahun 1920. Pada ketika itulah para pemuda Indonesia untuk pertama kali mulai menyatakan perasaan dan ide yang pada dasarnya berbeda daripada perasaan dan ide yang terdapat dalam masyarakat setempat yang tradisional dan mulai berbuat demikian dalam bentuk-bentuk sastra yang pada pokoknya menyimpan dari bentuk-bentuk sastra Melayu, Jawa dan sastra lainnya yang lebih tua baik lisan maupun tulisan.
Pernah pula dikemukakan bahwa penuli-penulis dari angkatan sebelum angkatan 1945 (atau lebih tepat tahun 1942) juga masih belum merupakan pencipta kesusastraan Indonesia yang modern sesungguhnya.
Banyak terdapat alasan untuk menganggap tahun 1942 dan bukan tahun 1945 sebagai tahun pemisah yang penting dan sebagai titik permulaan suatu zaman baru dalam sejarah Indonesia modern. RI lahir pada 17 Agustus 1945. Walaupun demikian, peristiwa-peristiwa tahun 1945 merupakan akibat yang wajar dan tak lain dari peristiwa yang berlaku pada tahun sebelumnya; baik dari segi politik maupun dari segi semangat terdapat suatu kelanjutan, bukan pemisah pada tahun 1945 itu. Revolusi Indonesia sesungguhnya bermula pada tahun 1942. Perubahan radikal yang diakibatkan oleh runtuhnya kolonial Belanda. Bergantinya penaklukan Barat dengan kekuasaan Asia, oleh kebangkitan rasa yakin dan insaf akan diri-sendiri yang timbul dengan tiba-tiba dan oleh kesadaran bahwa Negara ini merupakan bagian yang penting.
Disbanding dengan angkatan tahun 1945 yang merupakan perubahan dari revolusi yang tak nyata kepada revolusi yang nyata, ciri pokok perubahan tahun 1942 dapat digambarkan dengan jelas dan meyakinkan dibidang bahasa dan kesusastraan. Sampai tahun 1942 bahasa Belanda jelas merupakan bahasa utama, bukan saja dalam lapangan politik dan pentadbiran, tetapi juga dilapangan kebudayaan dan kemasyarakatan.
 
BAB II
PEMBAHASAN


A.    Kesusastraan Angkatan 45
Setelah masuknya kekuasaan Asia, Jepang segera menghapus bahasa Belanda sebagai bahasa resmi, dan melarang penggunaannya dikalangan masyarakat umum. Tidak ada bahasa lain melainkan bahasa Indonesia yang dapat mengambil tempat bahasa Belanda. Karena itu pada tahun 1942 atau awal tahun 1943 ini mendapatkan perubahan yang sebenarnya, suatu revolusi yang lebih besar daripada proklamasi bahasa Indonesia sebagai bahasa kebangsaan yang resmi dalam undang-undang dasar sementara RI tahun 1945. Jepang mendirikan pusat kebudayaan, Keimin Bunka Syidosyo, yang digunakan untuk mengorganisasikan seniman Indonesia.
Suatu ciri khusus tentang kesan itu ialah berhentinya penerbitan majalah Pujangga Baru dan Pujangga Baru itu sendiri sebagai suatu angkatan. Seperti Armijn Pane dan para penulis penting lainnya karana peralihan bahasa tersebut.
Suatu ciri menyolok ialah bahwa beberapa penulis angkatan sesudah perang menerbitkan buku-buku yang mengadung kumpulan karya dari zaman yang bermula dengan tahun 1942 atau 1943 dan berakhir beberapa tahun setelah proklamasi kemerdekaan: Amal Hamzah, Idrus, Umar Ismail. Zaman ini merupakan kesatuan dari segi semangat, walaupun dari segi gaya karangan karya mereka memperlihatkan semacam perkembangan. Idrus yang dianggap sebagai penganjur besar pada prosa zaman revolusi, pada zaman Jepang, menulis dua drama. Chairil Anwar sendiri yang merupakan pelopor utama angkatan 45, yaitu generasi tahun kemerdekaaan, mengubah lebih dari sepuluh sajak-sajak asliya sebelum 17 agustus 1945. Jassin dengan antologinya yaitu Gema Tanah Air (1948) yang menentukan suatu jangka masa mengumpulkan prosa dan puisi dari zaman antara tahun 1942-48. Pada keseluruhan, tiada diragukan lagi bahwa revolusi jiwa di Indonesia juga gerakan kesusastraan baru yang berhubungan rapat dengan itu bermula pada tahun 1942.
Istilah angkatan 45 itu pertama kali digunakan oleh Rosihan Anwar dalam majalah Siasat yang bertanggal 9 Januari 1949.
dibicarakan melalui organisasi yang agak resmi sifatnya republik dan mengadakan kongres-kongres. Pertama diantaranya ialah Kongres Kebudayaan di Magelang diadakan pada tahun 1948 oleh pihak yang berkuasa di Republik.
.Landasan yang digunakan adalah humanisme universal yang dirumuskan HB Jassin dalam Suat kepercayaan Gelanggang. Jadi angkatan 45 merupakan gerakan pembaharuan dalam bidang sastra Indonesia, dengan meninggalkan cara-cara lama dan menggantikannya dengan yang lebih bebas, lebih lugas tanpa meninggalkan nilai-nilai sastra yang telah menjadi kaidah dalam penciptaan sastra.
Diantara mereka yang lazim digolongkan sebagai pelopornya adalah Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Idrus, Pramudya, Usmar Ismail dsb. Nmaun sesungguhnya, tidak hanya itu saja saja alasan untuk memasukkan mereka kedalam angkatan yang lebih baru dari Pujanga Baru. Jelasnya, terlihat sekali pada karya-karya Chairil dimana ia telah membebaskan diri dari kaidah-kaidah tradisional kita dalam bersajak.
B.     Tokoh-Tokoh Angkatan 45
1.      Chairil Anwar
Sanjak-sanjak chairil sekali lagi merupakan sumber inspirasi revolusioner. Bagi kebanyakan orang muda sanjak-sanjak chairl anwar ternyata merupakan alat untuk menemukan diri sendiri. Chairil anwar mencapai kedudukannya bukan saja karena puisi, tetapi juga karena keperibadiannya, kesatuan manusia dan penyair, keselarasan antara kehidupan dengan kesan-kesan yang ditinggalkan oleh sanjak-sanjaknya. Ciri umun yang terdapat pada puisi iyalah intensifannya, keratikan akan hidup dengan cara amat drama radikal dalam segala bentuk dan seginya.
Baris-baris sanjak yang sering dipetik untuk membayangkan corak penyair-penyair ini dipetik dari sanjak aku dalam salah sebuah serta kumpulan sanjak, dan sanjak semagat dalam kumpulan lainnya. Dalam baris-baris itu dia membandingkan dirinya dengan binatang jalang yang terbuang
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Sebuah sanjak yang disatu pihak menyatakan rasa sepi yang pedih, tetapi dipihak lain pula rasa gairah terhadap hidup yang tak tertindas:
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Dari segi badaniah, dia tidak dianugrahi seribu tahun itu, malah sepuluh tahun pun tidak. Ternyata dia sadar tentang hal itu sebagaimana yang jelas kelihatan pada sanjk terakhir dalam kumpulan Jang terampas dan Jang putu, yang menurut jasin ditulis pada tahun 1949, dan memperlihatkan alamat datangnya kematian:
Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam,
Ada beberapa ditingkat merapuh,
Dipukul angin yang terpendam,
Aku sekarang orangnya bisa tahan,
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi,
Tapi dulu memang adasuatu bahan,
Yang bukan dasar perhitungan kini
Hidup hanya menunda kekalahan,
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
Sebelumpada akhirnya kita menyerah.
Unsur yang tidak kurang membayangkan sifat pengarangnya jika dibandingkan dengan sanjak aku yang merupakan sanjak pertama dalam kumpulan Deru Tjampur Debu. Jusru inilah yang membuktikan bahwa yang istimewa dalam puisinya bukanlah apa yang dikatakan, melainkan bagaimana dia mengatakannya, dan mengandung suatu unsure yang baru. Cirri khusus itu bukannya oleh karna tema atau:
Hidup hanya menunda kekalahan.
Merupakan suatu baris sanjak yang tak kurang dan meninggalkan kesan yang dipetik dari sanjak aku  merupakan puisi murni, dan member kesaksian tentang keahlian sebagai penyair yang sempurna. Dia menggunakan kata-kata sedemikian rupa sehingga kata-kata itu menjadi kata-kata baru yang dirangkai sedemikian rupa sehingga memperkuat tenaga pengucapan. Dia telah menggunakan tenaga bahasa indinesia dari segi morfologinya; umpamanya kata terbitan meninggi, dari kata tinggi, dari kata sifat yang statis kepada kata kerja yang dinamis.
Sejak Chairil Anwar maka mulailah bahasa Indonesia berkembang menurut pola yang digunakannya; baik unsure baru maupun unsure lama. Chairil Anwar juga tidak menghindari penggunaan sajak yang tradisional. Bukan saja konsonannya yang bersajak turunan volak e-a tiga kali berulang-ulang itu mengandung arti.
2.   Idru
Idrus sering dianggap sebagai pembaharu prosa disamping disamping Chairil Anwar sebagai pembaharu puisi Indonesia. Memilih kenyataan yang kejam, kasar, hal-hal yang menyinggung dan kata-kata yang dikemukakan kepada para pembaca dengan cara yang agak menantang, sifat terus-terang menurut Idrus, merupakan norma dan nilai karangan prosanya. Selain itu penggunaan kata-kata Belanda, digunakan dengan tidak segan-segan malah digemarinya. Sebuah peristiwa bulan November 1945. Pada bulan itu terjadi pertempuran yang sengit antara orang Indonesia dengan orang Inggris disekitar kota itu, dimana sesungguhnya orang Indonesia menderita tapi jangka panjangnya dianggap suatu kemenangan oleh karana pertempuran itu memperteguh kembali harga diri bangsa Indonesia dan mendorong memperteguh angkatan senjata. Oleh Idrus itu bukan suatu epik keperwiraan yang terbayang dalam ceritanya itu ialah kepicikan manusia, sikap mementingkan diri sendiri, kejamnya peristiwa dan akibatnya terhadap manusia biasa. Karna hal ini dia diserang karena bersikap anti-nasionalis merusak revolusi dengan karyanya itu.
3.      Paramudya Ananta Tur
Banyak persamaan antara dia dengan para anggota Angkatan 45. Penulis prosa yang terpenting dalam zamannya itu, bukan saja karena luasnya lapangan yang diliputi oleh semua karnya kereatifnya. Karya-karyanya terasa seperti riwayat hidupnya bikan fiksi. Karya pertamanya berjudul Ditepi Kali Bekasi yang dirampas oleh Nefis. Salah satu dari ceritanya yang paling menarik ialah Kemelut, yang mengisahkan kemalangankereta api yang hebat di Purwokerto. Pengarangnya mengalami peristiwa ini. Karena sifat kepedihannya yang menyayat hati, maka cerita ini berhasil meninggalkan kesan yang mendalam ketika karya itu diterbitkan dalam majalah Indonesia pada waktu itu hampir sama terjemahannya dalam bahasa Belanda terbit dalam majalah Orientatie.
4.      Sitor Situmorang
Sitor Situmorang tahun 1950-an itu tetap merupakan seorang tokoh yang memikat, seorang penulis yang kompeten dan lincah dalam banyak lapangan, yang menguasai bahasa Indonesia dengan cara yang luar biasa. Pada tahun 1945 dia menyelenggarakan surat kabar setempat di Tarutung, tahun 1947 dia menjadi ketua redaksi Waspada di Medan. Sitor sebagai pengarang esai, dalam sajak duka yang di persembahkan kepada Chairil Anwar, pandangannya dikemukakan dengan kata-kata yang menyatakan tidakkah dapat jalan kembali;
Manakah lebih sedih?
Nenek terhuyung tersenyum
Atau petualangan mati muda
Mengumur duka telah dinujum.
Pendekatan puisinya menggunakan gaya karangan pantun. Sanjak yang Berjudul Wadjah tak benama sajak cinta yang bersifat erotik, tetapi dalam hal sajak-sajak ini juga cinta dan kebahagiaan hanya merupakan gejala yang tak kekal, nada utama adalah kesunyian, tidak ada pengertian anata pengasih dengan orang yang dikasihi, antara ayah dengan anak, antara manusia dengan manisia. Permulaan sanjaknya yang berjudul Condition memperhatikan cara pengarangnya bergelut dengan bahasa:
Kami telah berharap dengan kehangatan tunas
di musim hujan, dan bila kami kecewa seperti
anak, tidak pun karena kebohongan lagi, hanya
karena ketidakamanan kata perumusan ingin
berhubungan dalam balutan pengertian…………
Kumpulan sanjak ini pada keseluruhan tampak melahirkan percobaan pengarangnya untuk melepaskan diri dari ikatan intelek yang menekan.
Sitor juga pernah menulis beberapa drama, diterbitkan dalam buku yang berjudul Djalan Mutiara, berlatar belakang pesisir Danau Toba, berlatar belakang Jakarta dan satulagi Muang Thai. Muang Thai berjudul Pertahanan Trachir penerimaan hukuman mati oleh oleh seorang ahli politik yang tak berdosa yang tidak tunduk kepada kebiasaan, Rosihan Anwar dan Sujatmoko telah mengemukakan keritik terhadap karya sastra Sitor yang berjudul Djalan Mutiara.
5.      Utuy Tatang Sontani
Dia tidak pernah menolak latar belakang Sundanya; kata-kaka Sunda merupakan hal yang biasa dalam karya-karyanya, ia memperlihatkan minat yang hidup terhadap kesusastraan tradisional Sunda. Umpamanya dia telah menghasilkan dua karya saduran dari cerita Sangkuriang kedalam bahasa Indonesia, yang pertama dalam bentuk drama prosa (1953).
6.      Mochtar Lubis
Dia mempunyai tenaga bekerja, kebebasan dan keberanian moral yang amat besar; dia memperoleh pengakuan sebagai wartawan waktu sebagai ketua pengarang surat kabar bebas Indonesia Raya, dia berani menentang konsepsi-konsepsi politik Sukarno dengan garang, hingga mengakibatkan dia ditahan di rumah dan dalam penjara antara tahun 1956 hingga 1965. Kisah-kisah kunjungan yang bersifat kewarganegaraan yang sebagaian dikumpulkan dalam buku-buku tersendiri merupakan bahan bacaan yang baik. Hal ini bukan saja karena fakta-fakta yang dikandungnya, tapi juga karena cara penyampaiannya yang menarik, dank arena anekdot dan kisah yang digunakannya untuk membumbui laporan itu. Beberapa karyanya yang lebih panjang yang disebut roman telah dihasilkannya, meskipun dua diaantaranya agak pendek menurut ukuran roman Barat. Cirita pendeknya yang dikumpulkan dalam dua buah buku Si Djamal dan Perempuan. Dengan unsure lelucon yang jeas yang bersifat Indonesia dan juga oleh sikap tak tersangkut oleh pengarang.
Prosa pertama ialah Tak Ada Esok kisah ini menceritakan kisah grilya biasa yang pada hakikatnya menceritakan kehidupan orang Indonesia. Roman setelah itu Djalan Tak Ada Ujung. Ceritanya yang bersifat kewartawanan daripada sastra namun teres-terang yang menyalurkan fakta-fakta bersahaja sehinga berkesan dan karyanya yang cenrung moralise dan sensasionalisme.  
7.      Trisno Sumardjo
Dia memerankan peranan yang kecil pada tahun-tahun awal sesudah perang, meskipun namanya muncul sebagai anggota redaksi beberapa majalah sastra. Selain menjadi seniman yang kereatif dia juga giat sebagai penerjemah tidak kurang dari tujuh buah drama Shakespeare yang diterjemahkan.
Hasil tulisanya ditemukan dalam kumpulan kata hati dan perbuatan yang memuat dari tahun 1946-1950: lima buah cerita pendek, dua buah drama pendek dan beberapa sajak. Karyanya tidak matang dan tidak menarik bila dibandingkan dengan karya pengarang yang sezamannya seperti Idrus.
8.      Asrul Sani
Lahir di Sumatra Barat, 10 Juni 1926, dan meninggal di Jakarta, 11 Januari 2004. Kiprahnya sangat besar pada dunia film Indonesia. Banyak menerjemahkan karya sastrawan dunia seperti: Vercors, Antoine de St-Exupery, Ricard Boleslavsky, Yasunari Kawabata, Willem Elschot, Maria Dermount, Jean Paul Sartre, William Shakespeare, Rabindranath Tagore, dan Nicolai Gogol.
9.      Rivai Apin
Lahir di Padang Panjang pada 30 Agustus 1927, dan wafat di Jakarta, April 1995. Pernah menjadi redaktur Gema Suasana, Siasat, Zenith, dan Zaman Baru. Keterlibatannya dalam Lekra menyebabkan dia ditahan dan baru dibebaskan tahun 1979.


BAB III
PENUTUP

Simpulan
Karya Angkatan 45 memiliki kedekatan yang intim dengan realitas politik. Ini sangat berbeda dengan Angkatan Pujangga Baru yang cenderung romantik-idealistik. Lahir dalam lingkungan yang sangat keras dan memprihatinkan Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik.
Rosihan Anwar dalam sebuah tulisannya dimajalah Siasat tanggal 9 Januari 1949, memberikan nama angkatan 45 bagi pengarang-pngarang yang muncul pada tahun 1940-an. Yakni sekitar penjajahan Jepang, zaman Proklamasi dan berikutnya.
Diantara mereka yang lazim digolongkan sebagai pelopornya adalah Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Idrus, Pramudya, Usmar Ismail dsb. Namun sesungguhnya, tidak hanya itu saja saja alasan untuk memasukkan mereka kedalam angkatan yang lebih baru dari Pujanga Baru. Jelasnya, terlihat sekali pada karya-karya Chairil dimana ia telah membebaskan diri dari kaidah-kaidah tradisional kita dalam bersajak.
Lebih dari itu, “jiwa” yang terkandung dalam sajak-sajaknya terasa adanya semacam pemberontakan. Kendatipun demikian tak lepas dari pilihan kata-kata yang jitu, yang mengena, sehingga terasa sekali daya tusuknya.
Dibidang Prosa, Idrus dianggap sebagai pendobraknya dan sebagai pelanjut dari Pujangga Baru, bersama kawan-kawannya ia berkumpul dalam Angkatan 45. Landasan yang digunakan adalah humanisme universal yang dirumuskan HB Jassin dalam Suat kepercayaan Gelanggang. Jadi angkatan 45 merupakan gerakan pembaharuan dalam bidang sastra Indonesia, dengan meninggalkan cara-cara lama dan menggantikannya dengan yang lebih bebas, lebih lugas tanpa meninggalkan nilai-nilai sastra yang telah menjadi kaidah dalam penciptaan sastra.

Share 'Tokoh Sastrawan Indonesia angkatan 45 ' On ...

FB Komentar